Jika Hanya Dunia Yang Kau Kejar
Jika hanya dunia yang kau kejar, sungguh betapa tidak adilnya dunia ini. Jika tujuan jangka panjang (akhirat) yang kau kejar, setidaknya bila dunia tidak dalam genggamanmu masih ada kebahagiaan terakhir yang lebih kekal sebagai balasan atas seluruh pengadian dan ibadah kita selama hidup di dunia ini. Dan janji Allah adalah benar.
Kesimpulan dari semua yang saya tulis ini bukan bermaksud untuk mematahkan semua upaya Anda untuk menjadi lebih baik. Bukan bermaksud untuk membuat Anda semakin malas berjuang meraih kualitas hidup yang lebih baik. Justru agar kita semua (termasuk saya pribadi), menjadi lebih bersemangat dalam menjalani peran kita masing-masing dengan tetap berada pada garis tujuan dilahirkannya kita ke dunia ini, untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah Sang Pencipta.
Dan bila pada akhirnya peran kita hanya sebatas pada hidup yang berkecukupan, maka masih ada tujuan jangka panjang yang bisa kita kejar sesudah kehidupan dunia yang singkat ini berakhir.
Jangan sampai jadi orang yang merugi. Sudah di dunia susah, di akhirat susah juga. Agar lebih semangat temukan saja
nilai spiritual pada peran yang sedang kita jalani.
Jika taman dunia ini begitu indah, apalagi taman surga
Menjalani Peran Yang Diberikan Sebaik Mungkin
Itulah tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bila kita menjadi kaya, bagus. Karena itu akan menjadi penunjang ibadah kita. Dengan kekayaan tersebut, kita bisa berbuat baik lebih banyak lagi. Namun, andaikata kita diberi peran orang susah pun, tujuan hidup ini masih tetap sama. Tidak lain untuk beribadah kepada Allah.
Maha Besar Allah yang menggenggam alam semesta dan isinya
Di akhir hayat nanti pun kita akan kembali kepadaNya. Menanti hari dimana akan dimintai pertanggungjawaban atas janji kita kepada Allah, sebelum dilahirkan ke dunia ini.
Hidup Itu Sederhana
Hidup memang sejatinya sederhana. Lihatlah bagaimana kehidupan orang dulu-dulu yang tetap bahagia dalam kesederhanaan mereka. Mereka tidak berpikir macam-macam. Pun kebutuhan hidup hanya sebatas yang benar-benar dibutuhkan. Gaya hidup belum menjadi sesuatu yang begitu dominan, tidak seperti saat ini.
Lantas apakah kita perlu menjadi jadul dan seperti orang dulu? Tidak. Kita boleh saja tetap
update dengan perkembangan zaman. Tetap peduli dengan gaya hidup. Yang kurang tepat adalah ketika kemudian makna kebahagiaan menjadi amat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Padahal, letak bahagia sesungguhnya ada di dalam hati.
Kita lantas berpikir, dengan kekayaan yang melimpah kemudian bisa mendapatkan sebuah kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan. Walaupun peluangnya lebih baik, belum tentu juga. Banyak juga orang yang diberi kesempatan hidup berkelimpahan namun justru tidak bisa menikmati. Bahkan mereka hidup dalam kehampaan setelah semua yang diinginkannya terpenuhi.
Iya kalau kemudian memang kita berjodoh dengan kondisi hidup yang berkualitas. Bagaimana bila ternyata Tuhan berkata lain, dan kita hanya diberikan peran yang biasa-biasa saja. Berkecukupan, tidak terlalu melimpah. Dan bagaimana pula bila ternyata peran kita adalah sebagai orang susah? Maka disini kita perlu merenung lagi apa sebenarnya yang kita kejar selama ini dan apa misi utama kita hidup. Apakah hanya
mengejar dunia semata?
Tanpa mengenyampingkan upaya yang terus kita lakukan untuk memperbaiki kualitas hidup, mari kita sama-sama mencoba menyelami ke dalam diri kita. Melakukan
inner journey dan mencari tahu apa sebenarnya kebahagian sejati. Kebahagiaan yang tidak dipengaruhi oleh faktor dari luar. Kebahagiaan yang bisa membuat kita tetap bersyukur apapun kondisinya.
Hidup menjadi sederhana saat kita bisa menemukan kebahagiaan dari dalam. Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus dibuat rumit? Yang benar-benar kita butuhkan tidak banyak sebenarnya. Tapi keinginan tiada batas lah yang kemudian membuat segalanya menjadi kompleks. Dan pada akhirnya, ada harga yang harus dibayar bagi mereka yang memang memilih untuk melewati jalan yang rumit demi memenuhi jutaan keinginan di diri.
Semua ini memang tentang sebuah pilihan. Yap, kita hidup untuk selalu memilih, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan kita.